Can It be Love Again? Chapter 2 {Sequel IFSLY}

Tittle: Can It be Love Again? Chapter 2 {Sequel IFSLY}

Cast: Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast: Find By Yourself

Genre: Romance, Family

Rate: PG 13

Length: Chapter (2 of ?)

Disclaimer:

Cast Dalam ff ini merupakan tokoh real dan juga OC

Namun alur ceritanya ASLI dan MURNI hasil imajinasiku

DON’T BE A PLAGIATOR !!!

Reri say :

New update for sequel IFSLY. Yeay, It’s YoonWon FF. Niat awalnya mau dibuat twoshoot tapi kayaknya gak jadi deh. Hahhaa…. Hope, you’ll like it.

Happy reading chingudeul!

“Loving someone is hurt….

I don’t want be hurt for the second time…”

Previous story >>> Tiffany berlari kecil ke arah belakang tubuh Yoona, dengan refleks Yoona juga membalikkan tubuhnya dan kini kedua pasang mata itu saling menatap tak percaya. Tubuh Yoona seakan membeku melihat seseorang yang sudah lebih dari 4 tahun tidak pernah dilihatnya kini berada tepat di depan matanya. Lelaki itu mengenakan Jazz berwarna biru dongker yang membalut tubuh tinggi semampainya dengan sempurna.

Cukup lama mereka terdiam hingga akhirnya lelaki yang bernama lengkap Choi Siwon itu memecah kekakuan diantara mereka berdua dengan sebuah senyuman simpul. Walau pun simpul, senyum itu tetap dilengkapi dengan dua buah lesung pipi yang hingga saat ini masih sangat dikagumi Yoona. Yoona merutuki dirinya sendiri untuk kenyataan ini.

“Ahjumma, kenalkan ini Appa Tiffany,” ucap Tiffany menarik kembali kesadaran Yoona mau pun Siwon.

Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibir Siwon, “Annyeong.” Siwon terlalu terkejut dengan situasi yang tidak pernah Ia duga sebelumnya. Bertemu kembali dengan seseorang yang pernah mengisi hari-harinya dalam waktu yang tidak singkat setelah sekian lama cukup membuat kemampuan public speakingnya menghilang entah kemana.

“Annyeong,” balas Yoona dengan suara getir. Yoona berusaha untuk tersenyum namun kedua sudut bibirnya menolak untuk diberi perintah. Tatapan Yoona yang semula sendu berubah menjadi tajam, menyiratkan perasaan benci yang mendalam.

“Appa Tiffany ganteng kan Ahjumma?” ucap Tiffany sambil menggandeng tangan Siwon dengan manja. “iya kan Ahjumma?” tanya Tiffany menuntut jawaban.

“Ne, Sangat Tampan.” Siwon terkecat mendengar kata-kata Yoona yang terkesan sinis, membuat perasaan bersalah dalam hatinya semakin menjadi-jadi.

“Apa Ahjumma menyukai Appa? Tiffany sangat senang kalau bisa mempunyai Eomma seperti Ahjumma,” racau Tiffany tanpa menyadari bahwa kata-katanya telah membuat tubuh Yoona dan Siwon kembali membeku.

“Appa, Ajumma sangat cantikkan, Appa? Appa juga pasti menyukai Ahjumma? Hore, Tiffany akan segera mempunyai Eomma,” ucap Tiffany riang dengan eyes smilenya.

“Aigo, Anak Appa pasti sudah lelah bermain seharian. Ayo kita pulang sekarang, sayang,” ucap Siwon mengalihkan perhatian Tiffany.

“Aniyo, Tiffany tidak lelah. Tiffany malah sangat senang bisa bermain seharian bersama Ahjumma, Ahjumma tidak hanya cantik tapi juga sangat baik. Appa, Tiffany mau Ahjumma jadi Eommanya Tiffany,” rengek Tiffany.

“Tiffany, jangan berbicara sembarangan. Arraseo?” tegas Siwon.

“Keundae….” Tiffany ingin menyanggah ucapan Siwon, namun melihat sikap Siwon yang sangat tidak biasa membuat Tiffany mengurungkan niatnya. “Ne, Appa.”

Lagi-lagi Yoona tidak bisa menolak permintaan Tiffany, walau awalnya Ia sangat yakin untuk pulang sendiri, namun akhirnya kini Ia berada dalam mobil yang sama dengan Siwon dan Tiffany. Yoona merasa lega karena ada Tiffany yang menjadi penengah antara dirinya dengan Siwon hingga Ia tidak perlu duduk bersebelahan secara langsung dengan Siwon.

Yoona memberi tahu alamat apartemennya sebelum sedan hitam yang dikemudikan oleh Jungsin Ahjussi itu mulai melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, tak ada yang berbicara diantara Siwon maupun Yoona, keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Tiffany telah terlelap di pangkuan Siwon.

“Mianhae karena hari ini Tiffany telah merepotkanmu,” ucap Siwon kepada Yoona saat mereka telah sampai di depan apartemen Yoona. Apartemen yang menyimpan sejuta kenangan diantara keduanya. Kenangan indah sekaligus menyakitkan yang tidak pernah hilang dari memori dua insan itu.

“Aniyo, sedikitpun Tiffany tidak merepotkanku. Tidak perlu sungkan,” balas Yoona tanpa menatap Siwon sedikit pun. Yoona membuka pintu mobil dan langsung melangkah keluar.

“Jeongmal mianhae,” ucap Siwon yang tidak mungkin didengar oleh Yoona karena Siwon mengucapkannya dengan sangat pelan. Ingin rasanya Siwon mengejar Yoona, menariknya dan tidak akan melepaskannya lagi, namun Ia sadar, Ia hanyalah masa lalu bagi Yoona.

“Ke rumah Eomma saja,” perintah Siwon pada Jungsin Ahjussi, supir yang telah dianggap Siwon seperti pamannya sendiri.

“Ne.” Jungsin Ahjussi paham betul kebiasaan Siwon, jika Siwon meminta diantar ke rumah Eommanya berarti Siwon sedang dalam suasana hati yang kurang baik.

oOo

Jiwon mengambil Tiffany dari gendongan Siwon saat Ia melihat Siwon masuk ke dalam rumah Appanya. Jiwon mengelus kepala Tiffany dengan sayang dan membaringkannya di atas kasur. Tak lupa, Jiwon menyelimuti keponakan kesayangannya itu agar dapat tidur dengan nyenyak. Jiwon mencium kening Tiffany sebelum Ia mematikan lampu dan keluar dari kamar Tiffany.

Jiwon melihat Siwon yang sedang meminum segelas wine dengan pandangan kosong di atas kursi mini bar yang tepat berada di ruang keluarga rumah besar milik Choi Kiho, Appa Siwon dan juga Jiwon. Jiwon melangkahkan kakinya lalu duduk di sebelah Siwon. Jiwon mengambil botol wine dari hadapan Siwon, lalu menuangkannya ke gelas kristal berwarna bening yang tergantung di atas mini bar. Jiwon memainkan segelas wine itu dengan tangannya sebelum menyesap wine merah itu ke dalam tenggorokannya.

“Apa Oppa sedang ada masalah?”

“Aniyo, Oppa hanya lelah dengan urusan kantor.” Jiwon hanya mengangguk dengan jawaban Oppanya, namun Ia tahu bahwa Oppanya sedang berbohong.

“Aku mengenal Oppa dengan baik. Oppa mungkin bisa menggunakan alasan itu untuk membohongi Eomma, tapi tidak denganku. Ceritakanlah masalah Oppa, walau aku tidak bisa membantu namun setidaknya itu bisa membuat perasaan Oppa lebih lega.”

“Kau memang tidak pernah bisa Oppa bohongi, Jiwon-ah.” Jiwon hanya merespon kata-kata Oppanya dengan tersenyum, Ia menunggu Oppanya agar bisa menceritakan masalahnya. “Ji-ah, apa kau pernah mencintai seseorang sampai kau tidak bisa melihat orang lain lagi dalam hidupmu selain orang itu?”

Jiwon mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Siwon, selama ini Siwon memang sangat tertutup untuk urusan pribadinya. Siwon tidak pernah menceritakan masalah hatinya pada siapapun. “Aniyo, aku belum pernah mencintai seseorang sampai seperti itu Oppa, waeyo? Apa oppa pernah mengalaminya? Dengan Tiffany eonnie?”

Siwon hanya tersenyum getir, “Ne, Oppa pernah mengalaminya, namun bukan dengan Tiffany. Sebelum menikah dengan Tiffany, Oppa telah menjalani hubungan yang serius dengan seorang gadis. Oppa sangat mencintainya. Oleh karena itu, Oppa menentang permintaan Appa untuk menjodohkan Oppa dengan Tiffany. Tapi gadis itu malah meminta Oppa untuk menerima permintaan Appa, Oppa begitu pengecut hingga mengalah dan memenuhi permintaannya.”

“Apa sampai saat ini Oppa masih mencintai gadis itu?”

“Sedetikpun Oppa tidak pernah bisa mengenyahkan dirinya dari kepala Oppa. Walau Oppa sudah berusaha dengan keras untuk mencintai Tiffany, tapi Oppa tidak bisa melakukannya. Oppa tahu, sikap Oppa sudah sangat kejam pada Tiffany.”

“Aniyo, setidaknya Oppa sudah berusaha. Walau Oppa tidak bisa mencintai Tiffany Eonnie, namun Oppa mencintai Tiffany dengan sepenuh hati. Itu sudah cukup. Aku yakin, Tiffany Eonnie mengerti kondisi Oppa.”

Siwon hanya tersenyum getir, Ia menghabiskan winenya dalam sekali tegukan. Bayangan Yoona dengan sikap acuh serta sinisnya tadi kembali berputar dalam kepalanya. Tak bisa dipungkiri, hati Siwon begitu gembira bisa kembali bertemu dengan Yoona, namun Ia juga merasakan rasa yang teramat sakit mengetahui bahwa gadis itu bukanlah lagi miliknya.

oOo

Yoona berusaha menghindar dari Tiffany yang selama 2 hari ini selalu mengekorinya di CJ butik, bukan karena Yoona membenci Tiffany namun Ia takut jika nanti Ia terlalu menyayangi Tiffany. “Mianhae Fany-ah, Ahjumma tidak bisa ikut. Ahjumma harus menyelesaikan pekerjaan Ahjumma.” Tolak Yoona ketika Tiffany kembali merengek agar Yoona ikut dalam acara campingnya dan Siwon.

“Jeball, ayolah Ahjumma. Ahjumma pasti tidak akan menyesal, pemandangan disana sangat indah,” rayu Tiffany dengan sangat meyakinkan.

Yoona menguatkan hatinya untuk tidak terbujuk rayuan Tiffany, “Aniyo, Ahjumma benar-benar tidak bisa. Mianhae, Ahjumma harus pergi sekarang juga, Ahjumma ada janji penting.” Yoona langsung pergi meninggalkan Tiffany yang masih menatap punggung Yoona dengan perasaan sedih.

Sebenarnya Yoona tidak mempunyai janji dengan siapapun, itu hanyalah alasan Yoona agar dapat menghindar dari Tiffany karena Ia tidak tega melihat raut kekecewaan dari wajah polos Tiffany. Yoona menatap arloji yang melingkar dengan cantik pada pergelangan tangan kirinya, masih pukul 4 sore, terlalu cepat jika Ia langsung pulang ke apartemennya.

Yoona melangkahkan kakinya ke sebuah toko buku. Yoona membaca beberapa biographi dari tokoh wanita yang paling berpengaruh di dunia sebelum Ia berpindah ke deretan buku desain. Yoona melihat satu persatu buku-buku itu dengan senyum mengembang, lalu Ia mengambil sebuah buku dengan judul ‘desaining is about your heart’. Buku dengan cover bewarna gold itu menarik perhatian Yoona untuk membacanya sekilas. Tanpa ragu, Yoona membawa buku itu ke kasir, membayarnya kemudian melangkahkan kakinya keluar.

Hujan deras disertai angin kencang menyambut tubuh Yoona yang hanya dibalut dengan blouse merah serta rok hitam selutut, Yoona langsung menghentikan taksi dan secepat kilat masuk ke dalam taksi dengan gigi yang bergemelutuk akibat cuaca dingin yang menusuk ke setiap persendian tulangnya.

Pandangan Yoona terkunci pada tetesan-tetesan hujan yang kembali mengingatkannya pada kenangan yang seharusnya sudah lama Ia lupakan, namun Hujan selalu berhasil membuat Yoona merasakan rasa yang teramat sakit pada hatinya untuk kesekian kalinya. Yoona memejamkan kedua bola matanya dan sekuat tenaga menghapus rasa sakit dalam hatinya.

“Agashi, sudah sampai.” Kata-kata dari supir taksi itu memaksa Yoona untuk kembali membuka kedua bola matanya. Yoona membayar ongkos taksinya dan dengan cepat Ia keluar, lalu berlari agar terhindar dari tetesan hujan yang masih turun dengan deras.

Seketika Yoona menghentikan larinya saat Ia melihat tubuh mungil seorang gadis kecil yang tengah menggigil kedinginan di depan apartemennya ditemani seorang wanita paruh baya. Gadis kecil itu menundukkan kepalanya, namun Yoona sudah bisa menebak siapa gadis kecil itu walau tanpa melihat wajahnya.

Yoona menghampiri gadis kecil itu dan seperti dugaan Yoona, gadis kecil itu adalah Choi Tiffany. Bibirnya telah berubah menjadi ungu serta wajahnya terlihat sangat pucat. Tanpa dikomando, Yoona menjatuhkan paper bag yang berisi buku desain yang Ia beli tadi. Yoona langsung memeluk tubuh Tiffany, lalu menggendongnya dan berlalri secepat yang Yoona bisa ke dalam apartemennya diikuti oleh Ahjumma Rhin.

Yoona mendudukkan Tiffany di sofa ruang tamunya, lalu Yoona mengambil 2 buah handuk. Satu, Yoona berikan pada Ahjumma Rhin dan satunya lagi Yoona gunakan untuk mengeringkan tubuh Tiffany.

Yoona kembali masuk ke dalam kamarnya, Ia mengambil sebuah long dress untuk Ahjumma Rhin dan sebuah kimono untuk Tiffany. Kimono itu berukuran sangat besar untuk tubuh mungil Tiffany, namun Tiffany tidak menolak ketika Yoona memakaikan pada tubuhnya. Yoona berulang kali melilitkan kimono besarnya agar dapat membalut tubuh mungil Tiffany dengan baik. Perlahan rasa dingin pada tubuh Tiffany menghilang, “Gomawo Ahjumma,” ucap Tiffany pada Yoona yang menatapnya penuh khawatir.

“Apa yang kau pikirkan dengan berdiri dibawah hujan yang sangat deras itu fany-ah?” Tiffany menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Yoona.

“Jeongmal mianhae Agashi, Tiffany Agashi sengaja menunggu Agashi, bahkan Tiffany Agashi tidak mau berteduh ketika hujan tadi. Tiffany Agashi tetap ingin menunggu Agashi sampai pulang,” jelas Ahjumma Rhin mewakili nona mudanya.

Yoona menghembuskan napasnya, lalu Yoona berdiri dari hadapan Tiffany yang masih duduk di sofa dengan menundukkan kepala. Yoona menuju dapur, mengeluarkan wortel, sayur, telur, dan daging dari dalam kulkas. Tangannya terlihat cekatan ketika mengolah bahan-bahan itu menjadi sup hangat. Setelah mencicipi supnya, Yoona melanjutkan masaknya dengan membuat ommelette serta bulgogi. Tak lupa, Yoona juga membuat coklat panas untuk mereka bertiga.

Yoona mengajak Ahjumma Rhin dan Tiffany untuk makan bersama setelah Yoona menyajikan masakannya di atas meja makan. Tiffany duduk bersebelahan dengan Yoona, Yoona bisa melihat bahwa wajah Tiffany masih terlihat sedikit pucat. Yoona mengambill sendoknya dan menyuapi Tiffany dengan perlahan. Ahjumma Rhin mengulum senyum melihat apa yang dilakukan Yoona pada Tiffany, layaknya seorang ibu pada anaknya.

“Agashi, Tiffany Agashi sangat menginginkan Agashi untuk ikut camping bersamanya dan tuan muda. Padahal, selama ini Tiffany Agashi tidak mengizinkan siapapun untuk ikut camping bersamanya dan tuan muda, bahkan Jiwon Agashi pun tidak pernah diizinkan Tiffany Agashi. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama tuan muda karena saat campinglah, Tiffany Agashi dapat mendominasi perhatian tuan muda,” ucap Ahjumma Rhin pada Yoona saat Ia membantu Yoona membersihkan peralatan makan mereka. Yoona tidak membalas ucapan Ahjumma Rhin, namun apa yang dikatakan Ahjumma Rhin berputar-putar di kepalanya. Yoona menatap Tiffany yang juga sedang menatap Yoona dengan kristal-kristal bening yang telah memenuhi kedua pelupuk matanya.

“Hikzzz… hikzzz…. Ahjumma pasti membenci Tiffany padahal Tiffany sangat menyayangi Ahjumma. Hikz…” tangis Tiffany memenuhi ruang tamu apartemen Yoona.

Yoona gelagapan melihat Tiffany yang semakin banyak mengeluarkan air mata, Ia mendekati Tiffany dan duduk di hadapan Tiffany. Yoona menatap kedua bola mata Tiffany, lalu Yoona memeluknya “Uljimma Fany-ah, Uljimma. Mana mungkin Ahjumma membenci anak semanis Tiffany. Ahjumma juga menyayangi Tiffany, namun pekerjaan Ahjumma harus diselesaikan secepat mungkin, makanya Ahjumma tidak bisa ikut Tiffany camping.”

“Aniyo, kalau Ahjumma tidak ikut, berarti Ahjumma membenci Tiffany. Hikzzz….”

“Arraseo, arraseo, Ahjumma akan ikut. Tapi janji, Tiffany tidak akan menangis lagi? Ne?”

“Ne, gomawo Ahjumma. Besok pagi, Tiffany dan Appa akan menjemput Ahjumma,” ucap Tiffany riang sedangkan Yoona hanya mampu menghembuskan napas melihat tingkah Tiffany yang bisa berubah 180 derajat dalam sekejap.

oOo

Dari semalam hingga pagi ini, Yoona masih menyesali keputusannya untuk menyetujui ajakan Tiffany. Yoona bahkan tidak memiliki rencana sedikit pun untuk kembali bertemu dengan Siwon, namun Ia malah akan terjebak dalam situasi yang menurutnya akan sangat canggung antara dirinya dan juga mantan kekasihnya itu.

Berulang kali Yoona mondar mandir di ruang tamunya yang sepi, Yoona memikirkan berjuta alasan agar Ia dapat membatalkan janjinya dengan Tiffany. Tapi tak satu pun alasan logis yang dapat Ia gunakan. Yoona mengacak rambutya hingga sangat berantakan, Ia terlihat sangat frustasi.

Dering ponsel yang tergeletak di atas sofa membuat Yoona terlonjak, Ia mengambil ponselnya dan tanpa melihat siapa yang menelpon, Ia langsung menggeser virtual hijau itu dan meletakkan pada telinga kirinya, “Yoboseyo.”

“Yoboseyo, Ahjumma ini Tiffany. Ahjumma sudah siap kan? sebentar lagi Tiffany dan Appa akan menjemput Ahjumma,” ucap Tiffany antusias.

“Emm, Fany-ah…” Yoona berusaha mencari alasan sambil menggigit kukunya.

“Ne? Ahjumma tidak berniat membatalkan janji Ahjumma kan?” tanya Tiffany to the point.

“Emm, aniyo, aniyo… Ne, Ahjumma sudah siap,” ucap Yoona sambil menundukkan kepalanya.

“Gomawo Ahjumma. Annyeong.”

“Annyeong.”

Yoona menghempaskan tubuhnya di atas sofa, memijit pelipisnya lalu Yoona memaksa tubuhnya untuk beranjak ke kamar. Ia mengambil baju secara asal-asalan dari dalam lemari bajunya. Yoona mengganti bajunya, merias wajahnya singkat, kemudian mengambil tas yang Ia isi dengan beberapa pakaian serta peralatan yang Ia perlukan.

Siwon menatap aneh wajah Tiffany yang terlihat sangat girang. Siwon tahu bahwa Tiffany sangat menunggu-nunggu saat camping, tapi tidak pernah Ia melihat wajah putri satu-satunya itu segirang dan sebahagia ini sebelumnya.

“Appa sudah siap?” tanya Tiffany pada Siwon.

“Ne, Kajja,” jawab Siwon sambil menggamit tangan Tiffany dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya Ia gunakan untuk membawa tas yang berisi pakaiannya dan Tiffany selama camping.

Siwon dan Tiffany menuju parkiran mobil. Siwon tersenyum karena Jungsin Ahjusi telah menyiapkan mobil yang akan Ia gunakan. Siwon mengambil kunci mobil pada Jungsin Ahjusi, “Gomawo Ahjussi, tolong jaga rumah dengan baik.”

“Ne, tuan muda.”

Siwon membukakan pintu depan mobil untuk Tiffany, namun Tiffany menolak. Tiffany berjalan menuju pintu belakang dan meminta Jungisn Ahjusi membukakan pintu itu untuknya. Siwon mengerutkan kening melihat tingkah putrinya. “Fany-ah, kenapa tidak duduk di depan saja?”

“Aniyo, Fany mau duduk di belakang. Palli Appa, ayo cepat berangkat.” Siwon menggelengkan kepalanya, Ia masuk ke dalam mobil dan perlahan menjalankan mobilnya.

“Appa, kita harus menjemput Ahjumma Im terlebih dulu,” ucap Tiffany yang membuat Siwon refleks menginjak pedal rem. Siwon melepaskan seatbeltnya lalu memutar tubuhnya kebelakang menghadap pada Tiffany.

“Ahjumma Im? Ahjumma Im Yoona?” tanya Siwon memastikan Ahjumma yang dimaksud oleh Tiffany.

“Ne, Ahjumma Im Yoona,” jawab Tiffany dengan eye smilenya.

“Mwo?” teriak Siwon dengan mata membulat. Siwon memang tidak mengetahui rencana Tiffany sama sekali.

“Palli Appa, Palli. Ahjumma pasti sudah lama menunggu kita.” ucap Tiffany polos, mengabaikan teriakan Siwon yang masih shock dengan apa yang Ia dengar.

“Kau pasti sudah memaksa Ahjumma Im kan Fany-ah?”

“Aniyo, Tiffany tidak memaksa. Ahjumma Im memang ingin ikut camping bersama kita. Appa tidak keberatan kan?” Siwon hanya menghembuskan napas mendengar jawaban Tiffany. Siwon kembali memutar tubuhnya ke depan, memasang seatbelt, lalu melajukan mobilnya menuju apartemen Yoona dengan perasaan yang bercampur aduk.

TBC….

Huahahaaa, ceritanya tambah gaje?

Mianata chingudeul

:p

Advertisements

About choireri

I'm not a writter, but I LIKE writing. Siwon is my priority bias and I like YoonWon + SeoKyu too ^^ author at CRFF

Posted on April 24, 2013, in Chapter, Fan Fiction. Bookmark the permalink. 147 Comments.

  1. kpan d lanjutin ff x thor….
    dh lama bgt g’ post next chap nx…
    lanjutin dong thor kren bgt ff nxa…

  2. Wkwk anaknya wonpa pemaksa banget ya

  3. lanjutannya udah adablm ya?

  4. ya ampun fanny keren bgt (y)

  5. Aaaaaaaa ceritanya keren eon,, Daebak, suka bgt sama tiffany kecil hehheh

  6. gk sbr bca part selnjut.a

  7. yeeaa . . Yoong eonni akhrx mau jga ikut camping .
    Semoga kampingnya menyenangkn nee . .

    next

  8. Annyeong aku reader baru….aigoo fany ayo jalankan rencanamu…biar siwon appa balikan lagi ama yoona ahjumma…next

  9. Waaaah….mungkinkah bakalan jd camping yg romantis antara yoonwon???
    Gomawo little Tiffany…semoga berkatmu appamu dan ahjuma I’m bisa kembali bersama,jd kamu bs punya eomma yg baik dan cantik.
    Buat Reri,gomawo udah ngasih FF yg keren,lanjutin ya ditunggu loh tp jgn lama2 publishnya…. Fighting

  10. Thor kok gk dilanjutin sieh nih kan dah lama bngt aku dah baca berkali kali tapi masih belum ada lanjutannya pleasee thor lanjutin

  11. fany kasihan…suka sama fany yg berusaha menyatukan yoonwon…aduh.. greget bacanya.. pasti acara campingnya romantis…. next..

Leave Your Words, Chingudeul ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: