Can It be Love Again? {Sequel IFSLY}

Tittle                : Can It be Love Again? {Sequel IFSLY}

Cast                 : Choi Siwon, Im Yoona

Support Cast   : Find By Yourself

Genre              : Romance, Family

Rate                 : PG 13

Length             : Twoshoot *maybe*

Disclaimer       :

Cast Dalam ff ini merupakan tokoh real dan juga OC

Namu alur ceritanya ASLI dan MURNI hasil imajinasiku

DON’T BE A PLAGIATOR !!!

Reri say           :

Haloha, Reri is back xD dengan YoonWon FF *hore* It’s twoshoot *maybe*. Ada yang ingat FF Reri yang judulnya I’ll Find Someone Like You? Lupa? Yang sad ending itu lho *smirk*

Reri kan udah janji buatin sequelnya, nah ini dia sequel dari IFSLY. FF ini buatnya ngebut ditengah kesibukan sama tugas akhir jadi mianhae kalau ceritanya gaje parah. 😀

Happy reading chingudeul! 😉

Senyum mengembang di kedua sudut bibir gadis yang baru menginjakkan kedua kakinya di bandara kebanggaan warga Korea Selatan, Incheon Airport. Ia mengenakan terusan abu-abu sampai lutut tanpa lengan yang dipadukan dengan celana berwarna putih serta topi yang berwarna senada dengan bajunya. Penampilannya simple tapi mampu membuat setiap wajah menoleh, hanya untuk sekedar memandang figurnya yang bahkan lebih cantik dari boneka barbie.

Gadis itu merogoh tas Pradanya ketika Ia merasakan ada benda yang bergetar, Ia mengambil I-Phone putih itu dengan tangan kanannya, melihat layarnya sejenak lalu langsung meletakkan ponsel itu di telinga kirinya.

“Yoboseyo, apa kau sudah tiba di Incheon?” sapa seorang namja yang kentara sekali sangat mengkhawatirkan yeoja yang sedang berbicara dengannya saat ini.

“Ne, aku baru saja tiba, Oppa tidak perlu mencemaskanku. I’m fine.”

“Syukurlah, bagaimana bisa Oppa tidak mencemaskanmu. Kau berada di tempat yang sangat jauh dari pengawasanku dan juga pasti sudah banyak perubahan disana.”

“Tenang saja, aku hanya akan sebentar berada disini Oppa. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku akan langsung kembali ke Itali.”

“Ok. Jaga dirimu baik-baik disana, kalau ada apa-apa segera kabari Oppa, Arraseo?”

“Arraseo.”

Setelah memutus sambungan telpon, gadis dengan nama lengkap Im Yoona atau lebih sering dipanggil Yoona itu kembali meletakkan ponselnya di dalam tas. Ia melangkahkan kakinya dengan anggun, sedangkan kedua bola matanya melirik ke kumpulan orang yang berada di sebelah kanannya. Senyum kembali mengembang pada wajahnya ketika Ia menemukan namanya tertulis pada kertas yang diletakkan di depan dada seorang pria yang ditebaknya berumur lebih dari 40 tahun.

Yoona menghampiri pria yang memakai jazz hitam serta sepan dasar yang juga berwarna hitam itu, “Annyeong Ahjussi, apa Anda dari CJ butik?”

“Ne Agashi, Park Jae imnida. Saya ditugaskan untuk menjemput agashi. Bangapsemnida,” Ucap Ahjussi Park dengan membungkukkan badan.

“Im Yoona imnida, bangapsemnida. Maaf merepotkan Ahjussi.” Yoona juga membungkukkan badannya pada Park Ahjussi, lalu Park Ajussi segera mengambil koper Yoona dan menuntunnya menuju sedan putih yang ada di parkiran Incheon Airport. Park Ahjussi membukakan pintu belakang untuk Yoona sebelum Ia duduk di belakang kemudi dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

Pandangan Yoona lurus ke luar jendela, menatap bangunan kota Seoul yang semakin ramai dan megah jika dibandingkan terakhir kali Ia melihatnya. ‘Begitu banyak perubahan pada kota ini, bagaimana dengan dirinya?’ batin Yoona sebelum Ia menutup kedua kelopak matanya.

“Agashi, kita sudah sampai.” Suara Park Ahjussi mengembalikan kesadaran Yoona yang sejenak sempat menghilang. Perjalanan Itali-Korea yang cukup lama membuatnya terserang ‘jet-lag’.

“Oh, Ne.” Yoona keluar dari mobil, kakinya menginjak kembali tempat yang sudah sangat Ia rindukan. Apartemen yang Ia tinggalkan sejak Ia memutuskan untuk pindah menyusul sepupu satu-satunya yang Ia miliki, Donghae 4 tahun yang lalu. Walau sulit, namun keinginan untuk bangkit dan melupakan rasa sakit hati karena ditinggalkan oleh orang yang sangat Ia cintai kala itu, membuat keyakinan Yoona semakin besar meninggalkan Korea dan hijrah ke negeri yang terkenal dengan kelezatan pizzanya, Itali.

Yoona menghirup udara dari sekitarnya dengan cukup dalam, lalu Ia mengambil kopernya dari tangan Park Ahjussi dan Ia mengucapkan terimakasih sebelum Park Ahjussi kembali melajukan mobilnya menjauhi apartemen Yoona.

Tangan mungil Yoona memencet deretan password pada pintu apartemennya sebelum kedua kakinya memasuki apartemennya. Ia meletakkan koper di dalam kamarnya lalu Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Untung saja, Ia telah meminta petugas apartemen untuk membersihkan apartemennya terlebih dulu sehingga kini Ia bisa langsung beristirahat.

Yoona tidak bisa lagi menghalau rasa kantuknya, tanpa dikomando, kedua kelopak matanya langsung menutup dan tak butuh waktu lama, terdengar irama napas yang teratur dari hidung Yoona sebagai tanda Ia telah masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

oOo

Yoona tersenyum memandangi pantulan tubuhnya di cermin, Ia mengenakan blazer semiformal putih yang dipadukan dengan rok selutut yang juga berwarrna putih. Bros berbentuk bunga dengan warna pastel semakin menyempurnakan figurnya pagi ini. Tak lupa, Ia melengkapi penampilannya dengan high heel putih 9 cm dan juga tas Channel Limited Edition yang senada dengan blazernya. Yoona juga mengenakan riasan tipis yang membuat wajahnya tampak segar dan natural.

“FIGHTING!” pekiknya dengan mengepalkan kedua tangannya diatas udara.

Yoona mengambil map coklat dari atas meja kerjanya sebelum Ia melangkahkan kedua kakinya keluar apartemen dan langsung menghentikan taksi. Taksi itu langsung melaju dengan kecepatan sedang setelah Yoona memberi tahu tempat tujuannya.

Hari ini adalah hari pertama Yoona bertemu dengan client yang sudah jauh-jauh mendatangkannya dari Itali. Negara yang telah mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang desainer interior. Kepandaian serta keterampilan Yoona, membuat Yoona hanya memerlukan waktu 1 tahun untuk menyelesaikan pendidikan masternya dalam bidang desain interior. Sejak meraih gelarnya, Yoona bekerja di perusahaan besar yang telah mempunyai banyak cabang di seluruh dunia, L’Claize Art Design. Di perusahaan inilah, nama Yoona mulai dikenal dan sekarang namanya telah sejajar dengan beberapa desainer interior kelas dunia.

“Annyeonghaseyo, Apakah Anda Choi Jiwon-ssi?” sapa Yoona pada seorang gadis yang tengah duduk di pojok Twocome Coffe. Penampilan gadis itu juga diatas rata-rata. Ia mengenakan dress selutut berwarna putih gading yang dikombinasikan dengan blazer berwarna pink fanta. Kaca mata coklat membingkai kedua matanya menimbulkan kesan serius pada wajah cantiknya.

“Annyeonghaseyo. Ne, Choi Jiwon imnida,” Jawab gadis yang lebih sering dipanggil Jiwon itu dengan ramah. Walau sudah cukup lama tinggal di luar negeri, namun Yoona tetap tau sopan santun, Ia langsung memperkenalkan dirinya dengan sopan, lalu menjabat tangan Jiwon.

“Sepertinya umur kita tidak terlalu jauh berbeda. Bagaimana kalau kita menggunakan banmal saja, saya tidak terlalu suka menggunakan bahasa yang terlalu formal. Apa kau keberatan Yoona-ah?” tanya Jiwon setelah mempersilahkan Yoona duduk dihadapannya.

“Ne, saya juga sebenarnya lebih suka menggunakan banmal Jiwon-ah.” Balas Yoona dengan mengedipkan mata, membuat mereka berdua tertawa bersama.

Kedua gadis itu terlihat serius dengan perbincangan mereka. Yoona memperlihatkan satu persatu desain yang telah Ia rancang sesuai permintaan singkat yang dikirim Jiwon lewat email sebelumnya. Jiwon memperhatikan setiap penjelasan Yoona mengenai konsep desain interior yang akan Ia terapkan pada cabang baru CJ Butik.

Jiwon sangat terkesan dan juga menyukai setiap desain yang Yoona jelaskan, namun desain interior dengan konsep blue shappire Wang dipadukan dengan warna pity serta sedikit sentuhan batu kristal benar-benar menarik perhatiannya. Ia tidak bisa memalingkan perhatiannya lagi dari desain yang tengah Ia pegang saat ini, jika tidak ada anak kecil yang sejak tadi menarik-narik ujung blazernya.

“Ahjumma, Ahjumma,” rengek gadis kecil itu dengan mimik lucu.

“Aigo, ada keponakan Ahjumma yang lucu. Waeyo, jagiya?” tanya Jiwon mencubit kedua pipi gadis kecil itu dengan gemas.

“Tiffany ingin jalan-jalan tapi Appa sedang sibuk. Halmeonie dan Harabeoji juga sibuk, sedangkan Ahjumma Rhin harus pergi ke acara Ha Na Eonnie. Ahjumma temani Tiffany jalan-jalan ya. Jeball,” ucap gadis kecil berumur 3 tahun yang dipanggil Tiffany itu dengan menggosok-gosokkan kedua tangannya, memohon pada Jiwon.

“Ais, bagaimana Ahjumma bisa menolak permintaan keponakan Ahjumma yang cantik ini.”

“Hore,” teriak Tiffany riang.

Seakan tersengat aliran listrik, jantung Yoona berdetak dengan cepat mendengar nama yang disebutkan gadis kecil yang ada dihadapannya saat ini. Nama yang sangat familiar dalam ingatan Yoona, bahkan sampai saat ini, nama itu tidak pernah bisa hilang dari kepalanya. Sekeras apapun usaha Yoona untuk mengenyahkan nama itu dari ingatannya , maka sekeras itu pula nama itu tetap melekat dalam kepalanya. Selalu menghantui setiap langkah Yoona.

“Yoona-ah, Yoona-ah. Gwencahana?” tanya Jiwon setelah memperhatikan wajah Yoona yang sedikit pucat.

“Emm, ne. Gwenchanayo, Jiwon-ah. Nugu?” tanya Yoona berusaha tersenyum untuk menutupi perasaan kalutnya.

“Ayo beri salam pada Ahjumma, Fany-ah,” ucap Jiwon pada Tiffany.

Tiffany membungkukkan badan mungilnya, “Annyeonghaseyo Ahjumma, Choi Tiffany imnida. Bangapsemnida.”

Senyum manis Tiffany bahkan tidak mampu menghapus rasa kalut pada diri Yoona. Tubuh Yoona semakin kaku terlebih setelah mendengar marga Tiffany, Ia semakin takut jika yang ada difikirannya saat ini adalah kenyataan.

Yoona berusaha mengenyahkan spekulasinya, Ia meyakinkan dirinya bahwa bukan hanya lelaki yang sempat menjadi orang yang paling Ia cintai itu yang memiliki marga choi di negeri ini. Ia menyunggingkan senyumnya lalu membalas salam Tiffany, “Ne, Bangapsemnida Tiffany-ah. Im Yoona imnida.”

“Ahjumma sangat cantik, sama seperti Eomma,” ucap Tiffany dengan eye smilenya.

“Jeongmal?”

“Ne. Tiffany ingin punya Eomma seperti Ahjumma.” Yoona tersentak dengan kata-kata Tiffany. Yoona melirik Jiwon yang kini hanya menatap Tiffany dengan tatapan sendu.

“Fany sayang, katanya mau jalan-jalan. Tiffany siap-siap dulu ya. Ahjumma tunggu disini, otte?” ucap Jiwon mencairkan suasana. Tiffany menggangguk dengan riang, Ia berlari kecil ke dalam ruangan yang tepat berada di pojok Twocome cafe. Tiffany sering menghabiskan waktunya disini ditemani babysitternya, Ahjumma Rhin dibanding rumahnya sendiri karena Ia menyukai suasana ramai di cafe milik Appanya ini.

“Mianhae Yoona-ah. Sejak kecil Tiffany tidak mempunyai seorang ibu karena ibunya meninggal saat melahirkan Tiffany. Oleh karena itu, Ia selalu merindukan sosok seorang ibu yang tidak bisa Ia dapatkan sejak lahir.”

“Oh, Ne. Gwenchana Jiwon-ah. Aku jadi merasa tidak enak karena membuat Tiffany sedih. Bagaimana dengan Appanya?” tanya Yoona dengan dada yang bergemuruh.

“Hemm, Oppa sangat menyayangi Tiffany. Ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk Tiffany disela-sela kesibukannya mengurus beberapa perusahaan Appa. Aku selalu berusaha menjodohkan Oppa dengan beberapa temanku, namun Oppa malah sangat betah menjadi single parent. Aigo, kenapa aku malah jadi curhat begini. Jeongmal mianhae Yoona-ah.”

“Aniyo, tidak apa-apa. Tidak perlu sungkan Jiwon-ah,” balas Yoona. Sebenarnya Yoona berharap Jiwon menyebutkan nama Oppanya karena Yoona ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang yang dimaksud Jiwon bukanlah orang yang kini ada dikepalanya.

“Ahjumma, Tiffany sudah siap. Ayo kita berangkat. Tiffany ingin ke lotte World,” ucap Tiffany sembari berlari kecil menuju meja Jiwon dan juga Yoona.

“Ne, tunggu sebentar ya sayang.”

Jiwon dan Yoona membereskan semua berkas yang ada di atas meja dan mereka telah sepakat untuk menerapkan konsep blue shappire pada cabang ke delapan CJ butik.

“Ahjumma ikut kami jalan-jalan saja ya Ahjumma?” Ajak Tiffany pada Yoona.

“Ne, jika kau belum ada rencana lebih baik ikut kami jalan-jalan saja Yoona-ah. Bukankah kau sudah lama tidak pulang ke Korea. Mau ya? Jeball?” Kali ini Jiwon ikut-ikutan membujuk Yoona.

“Gomawo Tiffany sayang, tapi Ahjumma tidak mau mengganggu acara jalan-jalan Tiffany.”

“Aniyo, pokoknya Ahjumma harus ikut. Kalau Ahjumma tidak ikut, Tiffany tidak mau pergi,” ucap Tiffany dengan memanyunkan bibir tipisnya. Yoona berfikir sejenak dan akhirnya menyetujui ajakan Tiffany dan Jiwon. Mereka bertiga pergi dengan menggunakan mobil Jiwon, sementara Ahjumma Rhin langsung menuju sekolah putrinya menggunakan taksi.

Sudah 2 jam lebih Tiffany, Yoona dan juga Jiwon mencoba berbagai permainan yang ada di Lotte World, namun  tak tampak raut lelah sedikitpun pada wajah ketiganya. Mereka menikmati semua permainan disana dengan penuh keceriaan.

“Tiffany sayang, kita istirahat sebentar ya. Tiffany mau minum apa?”

“Tiffany mau es krim strawberry.”

“Ne, Tiffany tunggu disini sebentar ya, Ahjumma beli es krim dulu. Jangan merepotkan Ahjumma Yoona ya sayang,” Tiffany mengangguk dengan lucunya.

Yoona dan Tiffany duduk di sebuah kursi panjang yang memang diperuntukkan sebagai tempat beristirahat. Sama seperti Yoona, Tiffany duduk dengan menggoyang-goyangkan kedua kakinya. Keduanya tertawa setelah menyadari kesamaan diantara mereka berdua. Yoona mencubit kedua pipi Tiffany dengan gemas sedangkan Tiffany langsung mencium pipi kanan Yoona. Ada rasa yang tak biasa pada hati Yoona ketika Tiffany melakukan itu.

“Aigo, kalian berdua tampak serasi. Seperti Eomma dan Putrinya saja. Aku jadi iri melihat keserasian kalian berdua,” ucap Jiwon dengan menyipitkan matanya. Ia membawa sebuah es krim di tangan kanannya serta kantong plastik berisi makanan ringan dan minuman di tangan kirinya.

“Hahaha, Ahjumma jangan cemburu. Tiffany juga sayang Ahjumma,” ucap Jiwon mengambil es krimnya lalu mencium pipi kanan Jiwon.

“Ais, Tiffany benar-benar pintar membuat Ahjumma senang. Ahjumma juga sayang Tiffany.”

Bunyi dering ponsel yang berasal dari tas Jiwon menyela obrolan ringan diantara mereka bertiga. “Apa harus sekarang juga?” tanya Jiwon pada seseorang yang berada diseberang telponnya. Jiwon mendesah setelah memutus sambungan telpon itu. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Tiffany, tapi Ia harus kembali secepat mungkin ke butiknya karena ada masalah yang cukup serius dengan pelanggannya.

“Tiffany sayang, Ahjumma harus kembali ke kantor sekarang juga. Emm, kita lanjutkan jalan-jalannya lain kali saja ya? Otte? Ahjumma janji,” ucap Jiwon penuh rasa bersalah.

“Shirreo, Tiffany masih ingin bermain, hikzz….”

Jiwon sangat tidak tega melihat Tiffany menangis, namun tanggungjawabnya sebagai pemilik butik juga harus tetap dilaksanakan. Ia menggigit bibir bawahnya, terlalu bingung harus bagaimana agar dapat membujuk Tiffany.

“Tiffany sayang, Uljimma. Kalau Tiffany berhenti menangis, Ahjumma akan menemani Tiffany jalan-jalan sampai Tiffany puas. Otte?” ucap Yoona membujuk Tiffany.

“Jinjja?” balas Tiffany dengan mata membulat.

“Ne”

Jiwon sangat berterimakasih pada Yoona. Jiwon berjanji akan mengirim supir untuk menjemput mereka nanti sore. Tiffany menggandeng tangan Yoona dengan erat, mereka mulai kembali mengelilingi Lotte World, mencoba berbagai permainan dengan penuh semangat.

Tubuh Tiffany dan juga Yoona basah dari kepala sampai kaki setelah mereka mencoba permainan arum jeram. Tiffany sudah mulai menggigil namun Ia malah meminta untuk kembali bermain arum jeram. Setelah tiga kali mencoba permainan itu, Yoona mengajak Tiffany untuk berhenti. Mereka mengambil tas yang ada di loker, lalu Yoona membeli handuk kecil serta pakaian ganti untuknya dan juga Tiffany.

Tak terasa sudah pukul 5 sore ketika mereka selesai mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang baru. Yoona mengajak Tiffany keluar dari Lotte World, mereka mencari restoran cepat saji karena perut keduanya telah berbunyi sejak tadi.

Yoona memesan double humberger, chikken fillet serta 2 botol air putih untuknya dan Tiffany. Yoona dengan lembut mengelap kedua sudut bibir Tiffany saat ada saus yang menempel dari Humberger yang Ia makan tadi. Tiffany sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Yoona karena Ia sangat merindukan kasih sayang seorang ibu.

“Gomawo Ahjumma,” ucapnya lembut.

“Cheonmaneyo Tiffany sayang,” Walau baru pertama kali bertemu hari ini, namun Yoona telah merasa sangat dekat dengan Tiffany. Entah kenapa, Ia sangat ingin membahagiakan Tiffany.

Yoona merogoh tasnya ketika Ia merasakan ada getaran ponsel, namun ternyata bukan ponselnya melainkan ponsel Tiffany, “Yoboseyo,” balas Tiffany pada seseorang yang menelponnya. “Tiffany sedang makan di depan Lotte World. Ne Tiffany akan menunggu Appa. Anyyeong.”

Yoona tersedak mendengar kata ‘Appa’ yang diucapkan oleh Tiffany. “Ahjumma, gwenchana?”

“Ne, gwenchanayo. Nugu, Fany-ah?”

“Tadi Appa yang menelpon. Appa bilang akan mengirim supir untuk menjemput kita Ahjumma.”

“Ne, kalau begitu kita harus segera menyelesaikan makan kita,” balas Yoona.

Yoona tengah merapikan rambut Tiffany yang sedikit berantakan ketika Ia mendengar suara langkah kaki mendekati mereka. “Appa,” ucap Tiffany riang.

Tiffany berlari kecil ke arah belakang tubuh Yoona, dengan refleks Yoona juga membalikkan tubuhnya dan kini kedua pasang mata itu saling menatap tak percaya. Tubuh Yoona seakan membeku melihat seseorang yang sudah lebih dari 4 tahun tidak pernah dilihatnya kini berada tepat di depan matanya. Lelaki itu mengenakan Jazz berwarna biru dongker yang membalut tubuh tinggi semampainya dengan sempurna.

TBC….

 

How is it chingudeul?

Gaje parah kan?

Hahhaaa

Commentnya banyak dibuat happy ending, kalau dikit terpaksa Reri buatin jadi sad ending lagi *just kidding*

😉

Advertisements

About choireri

I'm not a writter, but I LIKE writing. Siwon is my priority bias and I like YoonWon + SeoKyu too ^^ author at CRFF

Posted on April 2, 2013, in Chapter, Fan Fiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 136 Comments.

  1. thyta shedalihi

    pasti namja yng buat yoona eonni jdi diam seperti patung itu siwon oppa (?) #main_tebak_aja_nhi_aq

  2. tiffany anaknya siapa ya? eh thor ceritanya baguuus sama kata2 gampang dimengerti 😉

  3. lanjut….lanjut….chingu

  4. Happyend… happyend,..
    Jd bnerr tuh wonppa??
    Pa yg kn yoonnie lkuikn slnjut ny?!??

  5. Omo yoona eonni bertemu dgn siwon oppa…

  6. chingu d lanjut donk.. keren ni ff nya.. jebal chingu! aku tnggu..

  7. Annyeong slm knal aQ reader bru…!!!

    Wahhh…crtanya mnarik, sprti apa hub.Yoonwon dan tiffany sblmnya ??
    Bkin pnsaran !!

  8. ahh… pasti itu siwon oppa deh… lanjut lanjut. .

  9. Baguus

  10. Itu wonpa kam aigo gimna reaksinya yah

  11. Wah pasti yoong kaget bingits… Akhh tifanny

  12. ya ampun nyessss bgt thor 😥

  13. Masih ga percaya siwon bener nikah dg tiffany dan mempunyai anak

  14. Omoona !! apa yoong eonni bertemuu siwon oppa ? ?
    Yeeaah . . bakaal CLBK nhiii . .

  15. Aku baca dan comment duluan di part 2,gpp ya….
    Wah….bukan hanya siwon aja yg jatuh cinta sama yoona,tp anak siwonpun langsung jatuh cinta sama yoona.
    Semoga little tiffany bisa mempersatukan lg yoonwon.
    Lanjutannya ya….jgn lama-lama….

  16. eunni maaf baru bisa coment
    ini kenapa gk dilanjutakn ff nya
    padahal udah setahun lebih
    ayo eunn.semangat buat ngelajutin

  17. itu siwon kan??..aigoo greget bacanya…yoona fighting…next

Leave Your Words, Chingudeul ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: