The Wedding Without Heart Part 9

Tittle                   : The Wedding Without Heart Part 9

Cast                     : Choi Siwon, Im Raena (OC) *reader bisa anggep siapa aja*

Support Cast   : You will find them

Genre                : Romance

Rate                  : PG 15

Length             : Chapter 9 of (?)

Disclaimer     :

Cast Dalam ff ini merupakan tokoh real dan juga OC

Namu alur ceritanya ASLI dan MURNI hasil imajinasiku

DON’T BE A PLAGIATOR !!!

Reri say          :

Akhirnya bisa update juga, ayo siapa yang nunggui TWWH chapter 9??? *kepedean*

Buat chingudeul yang udah baca chapter 1 sampai 8nya bisa lanjut baca tapi buat yang belum silahkan baca terlebih dulu, obrak abrik aja FF Chapter Reri… 🙂

Happy Reading chingudeul !!!

Siwon Pov

Aku memijit pundakku yang terasa kaku karena berhadapan dengan berbagai dokumen yang harus selesai kutandatangani hari ini juga. Terkadang aku merasa bosan dengan rutinitas ini, tapi jika mengingat banyaknya nasib karyawan yang bergantung padaku, semangatku bangkit kembali.

Tangan kiriku terulur mengangkat telepon untuk menghubungi Tiffany, aku memintanya untuk menyiapkan segelas espresso untuk menghalau rasa kantukku. Sudah dua malam ini aku tidak tidur dengan nyenyak memikirkan sikap Jiri dan Min Ho saat bertemu di restoran kala itu. Apa aku cemburu? Aniyo, tidak mungkin aku cemburu, Jiri adalah masa laluku. Kuyakinkan diriku bahwa aku hanya merasa penasaran.

Aku mengalihkan pandanganku dari berbagai dokumen ketika Tiffany masuk ke ruanganku dengan membawa segelas espresso, Ia meletakkannya bukan di atas meja kerjaku, tapi di atas meja yang ada di samping kanan meja kerjaku. Aku bangkit dan mendudukkan tubuhku di atas sofa empuk yang memanjakan tubuhku. Tiffany meninggalkanku setelah aku mengucapkan terimakasih padanya, aku mengambil gelas espresso itu dengan tangan kiriku,menghirup aromanya, lalu menyesapnya. Aku meletakkan kembali gelas espresso itu setelah 3 kali tegukan, kusenderkan tubuhku pada punggung sofa, lalu memejamkan kedua mataku, menciptakan ketenangan pada tubuhku.

Getaran ponsel di saku celanaku sedikit mengganggu waktu tenangku, tanpa membuka kedua mataku, aku meraihnya dengan tangan kananku, aku menggeser layar virtualnya dan meletakkan ponsel itu pada telinga kananku.

Yoboseo,” Ucapku, namun tak ada sahutan yang kudengar. Kubuka kedua mataku, lalu melepaskan ponsel itu dari telingaku. Mataku terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponselku. Jiri. Aku hendak meletakkan kembali ponsel itu pada telingaku saat panggilan itu terputus.

Pandanganku tetap terfokus pada layar ponselku, sedangkan fikiranku berkecamuk antara ingin menelponnya kembali atau berpura-pura bahwa kejadian tadi tidak pernah terjadi. Aku masih berperang dengan fikiranku ketika ponselku kembali bergetar, namun bukan telepon melainkan sebuah sms.

From : Jiri

Nanti malam aku menunggu Oppa di kafe biasa, aku akan tetap menunggu sampai Oppa datang!

End Siwon Pov

oOo

Raena Pov

Aku sedang membereskan meja kerjaku ketika Jiwon masuk ke dalam ruanganku. Ia menatapku dengan eye smilenya yang kuyakin mampu membuat seluruh namja bertekuk lutut melihatnya. Adik iparku ini benar-benar cantik. Tidak hanya cantik, tapi dia juga memiliki hati yang baik, sama seperti Oppanya.

Eonnie,” Ucapnya manja.

Aku menghentikan aktifitasku, lalu membalas senyumannya, “Waeyo, Ji-ah.”

“Emm… Apa malam ini Eonnie ada janji dengan Oppa?” Tanyanya dengan mata membulat.

Aku berpikir sejenak, lalu menjawab “Aniyo, memangnya kenapa?”

Eonnie, temani aku belanja ya, besok malam aku ingin menghadiri pesta ulang tahun temanku, tapi aku belum membeli kado dan juga baju yang bagus untuk kupakai besok. Eonnie mau ya? Please,”Ia menatapku dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Aku tidak mungkin bisa menolak permintaannya kalau sudah seperti ini.

Ne, tapi Eonnie meminta izin pada Oppamu dulu ya, otte?” Aku tertawa geli melihat reaksinya yang langsung menganggukkan kepalanya cepat. Aku mengambil ponselku dari atas meja kerjaku, memencet nomor ponsel Siwon Oppa lalu meletakkannya pada telinga kananku. Cukup lama aku menunggu sampai Siwon Oppa menganganggkat ponselnya.

Yoboseo, apa aku mengganggu Oppa?”

Yoboseo, aniyo, waeyo, Rae-ya?” Tanyanya lembut.

“Jiwon memintaku untuk menemaninya belanja malam ini, apa Oppa keberatan?” Tanyaku dengan sedikit was-was.

“Emm.. Aniyo, Oppa tidak keberatan. Kalian pergi dengan mobil Jiwon atau Oppa mengirimkan supir untuk mengantar kalian?” Aku bertanya pada Jiwon dengan tidak mengeluarkan suara, sebelum menjawab pertanyaan Siwon Oppa.

“Kami akan pergi dengan menggunakan mobil Jiwon, Oppa tidak perlu khawatir. Oya, Oppa ingin makan malam apa, biar aku memberi tahu Ahjumma Eunri untuk memasaknya.”

“Tidak perlu Rae-ya, Oppa juga mungkin akan pulang terlambat. Masih banyak pekerjaan yang harus Oppa selesaikan di kantor.”

“Baiklah, Jam berapa Oppa pulang nanti?”

Aniyo, belum pasti. Kau tidak perlu menunggu Oppa, Arra?”

Arra, kalau begitu aku dan Jiwon pergi dulu. Annyeong, Oppa.”

Annyeong.”

Aku menutup sambungan telepon, mengambil tasku, lalu memasukkan ponselku. Aku mengenakan mantelku sebelum keluar dan menggamit lengan Jiwon. Aku menunggu Jiwon yang sedang mengambil tasnya di dalam ruangannya sejenak, lalu setelah Jiwon keluar, kami bergegas menuju parkiran dan melesat menuju Seoul Grand Mall.

End Raena Pov

oOo

Siwon Pov

Aku melangkahkan kakiku memasuki Andante Cafe yang terletak tepat di jantung Kota Seoul, cukup jauh dari kantorku. Hatiku berdetak kencang dan fikiranku berkecamuk tak menentu. Aku ingin melangkah mundur dan kembali ke rumah, namun siluet seorang yeoja yang masih sangat kuhapal dengan jelas mengurungkan niatku.

Dengan langkah perlahan, aku mendekati yeoja yang duduk sendiri di sebuah meja yang terletak di sudut kanan ruangan. Keringat memenuhi dahiku saat langkahku semakin mendekatinya, Ia mendongakkan wajahnya, menyadari kehadiranku yang telah berada dihadapannya.

Mata kami bertemu dan Ia tersenyum dengan sangat manis padaku. Ia menunjukkan kursi yang ada di hadapannya untukku dengan tangan kanannya. Aku mendudukkan tubuhku, namun mataku tetap menatap matanya awas. Ia menggunakan dress hitam dengan lengan yang terbuka, serta riasan natural yang membuat wajahnya terlihat sempurna, sama seperti saat Ia masih menjadi yoejachinguku dulu.

Oppa, mau minum apa?” Tanyanya memecah keheningan diantara kami berdua.

“Seperti biasa,” Ucapku kaku. Ia menganggukkan kepalanya, lalu memanggil seorang pelayan dan memesan minuman untukku. Kami kembali terdiam seolah menikmati dentuman musik yang terdengar kencang. Pelayan tadi membawa sebotol minuman keras yang tutupnya telah terbuka untuk mempermudah kami meminumnya. Ia meletakkannya di atas meja, lalu berbalik dan meninggalkan kami berdua yang masih sama-sama terdiam.

Jiri menuangkan segelas minuman untukku, Ia meletakkannya di hadapanku, lalu Ia menuangkan minuman untuknya, mengangkat gelas itu, mengajakku bersulam. Dengan enggan aku mengangkat gelasku, lalu langsung menghabiskannya dalam sekali tegukan. Tenggorokanku terasa panas dan kepalaku sedikit berdenyut, tak terbiasa dengan zat asing yang tiba-tiba memasuki lambungku.

Jiri kembali menuangkan minuman untukku, tanpa berpikir dua kali, aku langsung meneguknya, tak menghiraukan perutku yang terasa perih karena belum kuiisi dengan makanan sejak tadi siang. Jiri menatapku dengan mata membulat, namun Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun untuk memprotes seperti yang sering Ia lakukan dulu. Ia mengambil botol minumannya dan langsung meneguknya tanpa menuangkan terlebih dulu ke dalam gelas. Tingkahnya kini mengingatkanku langsung kepada Raena yang membuatku menjatuhkan gelas yang sedang kupegang dari tangan kananku.

Jiri menatapku dengan kilatan mata marahnya, lalu mendengus kesal, “Waeyo, apa Oppa menyesal menemuiku disini? Apa Oppa sedang mengingat istri Oppa itu? Hah?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Jiri karena aku tahu itu hanya akan membuatnya semakin marah. Aku merampas botol minuman yang ada di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja. Ia kembali mendengus, menatap wajahku dengan mata menyipit, lalu dengan cepat Ia menyambar botol minuman tadi dan meneguknya dengan cepat. Aku beranjak dari tempat dudukku, menghampirinya, lalu langsung mendekapnya ke dalam pelukanku, berusaha menenangkan dirinya.

End Siwon Pov

oOo

Raena Pov

Gomawo, Eonnie sudah menemaniku belanja sampai selarut ini. Sampaikan salamku pada Siwon Oppa,” Ucap Jiri ketika kami telah sampai di hadapan rumahku.

Cheonmaneyo Ji-ah. Eonnie juga senang bisa menemanimu belanja. Nanti Eonnie sampaikan pada Oppamu. Hati-hati dijalan, salam buat Eomma dan Appa,” Jawabku sebelum melangkahkan kakiku keluar dari mobil Jiwon. Aku tetap berdiri di depan pagar dengan melambaikan tangan sampai mobil Jiwon menghilang dari pandanganku.

Ahjumma Eunri membukakan pintu untukku, wajahnya terlihat lelah dan matanya sedikit merah, menandakan kalau Ia telah tertidur sampai aku membunyikan bel tadi, namun Ia tetap tersenyum menyambutku.

Mianhae Ahjumma, aku membangunkan tidur Ahjumma. Oya, apa Siwon Oppa sudah pulang?”

“Aniyo, Tuan Choi belum pulang nyonya. Nyonya ingin makan apa, biar Ahjumma siapkan.”

Gomawo Ahjumma, tapi Ahjumma langsung istirahat saja. Aku sudah makan malam bersama Jiwon.”

Ahumma Eunri mengangguk mengerti sebelum beranjak menuju kamarnya sedangkan aku melangkahkan kakiku menuju lantai 2. Aku meletakkan tasku serta beberapa paper bag belanjaanku di atas sofa yang ada di depan tempat tidur, lalu beranjak ke kamar mandi. Basuhan air hangat membuat tubuhku kembali rileks, setelah itu aku mengenakan baju tidur dan kembali beranjak ke lantai 1, aku ingin menunggu Siwon Oppa pulang.

Aku menghidupkan televisi untuk menghalau rasa bosan. Beberapa kali aku memindah saluran televisi sebelum mematikannya karena tak ada acara yang menarik perhatianku. Aku beranjak mengambil beberapa majalah yang ada di dalam lemari kecil pada sudut ruangaan, aku melihat cover majalahnya dan pilihanku jatuh pada majalahbisinis yang kuyakini milik Siwon Oppa. Aku membuka dan membaca artikel tentang persaingan bisnis yang terjadi antara HDS dan Lotte Mart, namun belum selesai aku membacanya, mulutku telah menguap untuk kesekian kalinya.

Aku menutup dan meletakkan majalah itu di atas meja, lalu aku melirik jam besar yang ada di dekat piano, hampir pukul 11 malam, namun Siwon Oppa masih belum kembali. Perasaanku tidak enak, aku ingin menelponnya, tapi takut mengganggu pekerjaannya. Kuputuskan untuk tetap menunggu Siwon Oppa sampai pulang, namun aku tak dapat mengalahkan rasa kantukku lagi.

End Raena Pov

oOo

Siwon Pov

Aku menghentikan mobilku di depan rumah Jiri. Pengaruh alkohol yang diteguknya membuatnya tertidur di sepanjang perjalan pulang, namun gumamannya masih samar-samar terdengar. Kupandangi wajahnya dan kuhapus air mata yang merembes keluar dari sudut matanya, hatiku terasa sakit melihat kondisinya seperti ini.

Aku membopongnya keluar dari mobilku karena aku tidak tega jika harus membangunkannya, seorang pelayan membukakan pintu rumahnya dan Ia membantuku mengantarkan Jiri ke dalam kamar. Kubaringkan Jiri di atas kasurnya, lalu menyelimutinya sampai di bawah lehernya. Kupandangi wajahnya sejenak sebelum melangkah keluar.

Aku tertegun saat melihat Raena tertidur di atas sofa ruang tamu. Kudekati tubuhnya yang meringkuk menahan dingin, Ia pasti sudah lama menungguku. Kualihkan poni yang menutupi matanya dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Kulepaskan tas kerjaku dari tangan kananku, lalu membopongnya ala brydal style menuju kamar kami. Rasa bersalah seketika menyergapku ketika melihat poto pernikahan kami yang terpajang di depan tempat tidur.  Mianhae Rae-ya, ucapku dalam hati.

End Siwon Pov

oOo

Raena Pov

Matahari pagi merembes memasuki retina mataku, kubuka mataku perlahan dan Wajah Siwon Oppa yang terlelap menjadi pemandangan indah yang akhir-akhir ini kusukai. Aku terkesiap mengingat bahwa semalam aku tertidur di ruang tamu saat menunggu Siwon Oppa pulang, wajahku memanas memikirkan kalau Siwon Oppa yang menggendongku sampai ke kamar.

Jari-jariku sudah berada di depan wajah Siwon Oppa, aku ingin memegang wajahnya, namun kuurungkan niatku, lalu beranjak ke kamar mandi. Aku keluar dari kamar mandi masih dengan mengenakan towel. Aku beranjak ke ruang wardrobe, tapi langkahku terhenti saat kakiku menginjak sesuatu. Aku melihat ke bawah, ternyata jazz Siwon Oppa, Kupungut lalu kugenggam dengan tanganku.

Aku kembali mengambil jazz Siwon Oppa yang sudah kuletakkan di tempat pakaian kotor. Aku menciumnya untuk memastikan dugaanku, benar saja aku mencium ada aroma lain dari jazz Siwon Oppa. Aku yakin ini adalah aroma dari parfum seorang yeoja, namun kutepiskan pikiranku. Aku tidak ingin berburuk sangka pada Siwon Oppa.

Aku membangunkan Siwon Oppa setelah aku berganti pakaian kerjaku, Ia menggeliatkan tubuhnya dan perlahan kelopak matanya terbuka. Aku menyambutnya dengan senyuman dan seperti biasa, Siwon Oppa membalas dengan senyum manisnya.

Good morning, Rae-ya,” Ucapnya sembari bangun dan beranjak ke kamar mandi.

Good morning, Oppa,” Balasku. Aku mencium alkohol dari mulut Siwon Oppa, namun aku berpura-pura tidak mengetahuinya. Aku menyiapkan baju kerjanya, lalu turun ke ruang makan terlebih dulu. Aku harus menyiapkan bubur hangat untuk Siwon Oppa, kepalanya pasti terasa pusing.

End Raena Pov

oOo

Siwon Pov

Pagi ini, Raena bahkan menyiapkan semangkuk bubur hangat untukku, itu artinya Ia menyadari kalau aku habis minum minuman keras, namun Ia masih bersikap seperti biasa yang membuatku semakin merasa bersalah padanya.

Aku memijit pelipisku lalu mengambil kunci mobil dan dompet dari laci meja kerjaku. Tiffany menghentikanku yang hendak keluar dari kantor. Aku benar-benar lupa kalau aku ada schedule untuk rapat dengan Presdir Lee. Rasa bersalahku pada Raena membuatku melupakan segalanya.

Aku menunda untuk menemui Raena karena Min Ho telah sampai di ruang rapat. Aku tidak ingin merusak nama baik Appa, aku segera beranjak ke ruang rapat diikuti Tiffany. Aku menjabat tangan Min Ho dan kami mulai tenggelam dalam pembahasan tentang strategi  peningkatan penjualan jam tangan  yang dipasok perusahaan Min Ho di HDS untuk satu tahun ke depan.

Aku menghela napas lega setelah mengakhiri rapat dengan Min Ho, Aku membereskan semua perlengkapanku dan hendak beranjak ke butik Jiwon jika saja Min Ho tidak mengajakku untuk minum kopi bersama. Aku mengangguk dan menerima ajakannya karena aku tidak mungkin menolak niat baik dari seorang rekan bisnis.

Kami menuju coffe shop yang terletak di lantai 1 HDS. Tempat ini selalu ramai pengunjung, mulai dari kaum remaja yang hanya sekedar menghabiskan waktu untuk mengobrol bahkan sampai orang dewasa yang memang menggemari kopi disini, tapi aku tidak perlu khawatir karena terdapat ruangan VIP yang disiapkan khusus bagi pebisnis sepertiku.

“Desain yang menarik,” Ucap Min Ho seraya duduk di sofa hitam tanpa sandaran, aku mengikutinya dan duduk di hadapannya.

Ahjussi Kang merupakan lulusan arsitektur, Ia memadukan kegemarannya pada kopi dengan profesinya sebagai arsitek dalam merancang tempat ini sehingga menghasilkan desain yang mengagumkan.” Min Ho mengangguk mengerti. Perbincangan kami terhenti saat seorang pelayan menanyakan pesanan kami. Aku hanya memesan segelas espresso sedangkan Min Ho memesan segelas caffe latte. Hanya menunggu 5 menit dan pesanan kami telah ada di atas meja.

“Siwon-ssi, boleh aku bertanya masalah yang sedikit pribadi?” Ucap Min Ho sambil menyesap minumannya. Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaannya, namun aku tetap mengganggukkan kepalaku karena aku pun cukup penasaran mengenai apa yang akan ditanyakannya.

“Apa kau mengenal Jiri?” Aku tersedak saat mendengar pertanyaan Min Ho. Aku meletakkan gelas espresso yang sedang kupegang ke atas meja, lalu mengelap bibirku dengan sapu tanganku. Aku mendongak dan menatap mata Min Ho yang juga sedang menatapku.

“Kenapa kau menanyakan itu padaku Min Ho-ssi?” Tanyaku berusaha kembali tenang.

“Aku hanya ingin memastikan apa yang ada di kepalaku.”

Ne? Apa maksudmu?

Aku mengenal Jiri saat aku masih kuliah di Paris. Aku cukup dekat dengannya, bahkan lebih dari seorang teman. Mungkin kami bisa disebut sepasang kekasih jika Jiri tidak selalu mengingat seseorang yang merupakan cinta pertamanya di negara ini. Walau pun begitu, aku tidak peduli karena aku masih mencintai Jiri sampai sekarang dan aku ingin memastikan bahwa orang yang dimaksud Jiri bukanlah dirimu, Siwon-ssi,” Ucapnya dingin dan menusuk langsung ke ulu hatiku. Aku cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Min Ho sehingga aku hanya terdiam, tanpa merespon apa yang Min Ho ucapkan.

“Aku berharap, orang itu bukanlah dirimu Presdir Choi, tapi jika pun benar, aku tidak akan menyerah dengan mudah,” Ucapnya tajam.

Min Ho kembali menyesap minumannya, lalu beranjak dan melangkah pergi seolah tidak terjadi apapun. Aku masih terduduk dengan menatap minuman di atas meja tanpa minat, sedangkan jantungku terus bergemuruh dan kepalaku berdenyut memikirkan ucapan Min Ho.

End Siwon Pov

oOo

Raena Pov

Aku merasa sikap Siwon Oppa akhir-akhir ini berbeda, senyum sudah jarang terukir dari wajahnya dan Ia juga terkesan menghindariku. Aku berfikir dengan keras, kesalahan apa yang sudah kulakukan sehingga membuat Siwon Oppa seperti ini, tapi aku tak dapat menemukan penyebabnya.

Aku berpura-pura sedang menyisir rambutku sehingga aku bisa melihat pantulan wajah Siwon Oppa dari cermin. Ia sedang berbaring di ranjang dengan menyilangkan kedua kakinya sedangkan kedua tangannya memegang sebuah buku tebal di dedepan dadanya, raut mukanya terlihat serius dalam membaca buku itu.

Aku menghela napas, lalu beranjak dari meja riasku. Kubaringkan tubuhku disamping Siwon Oppa dengan memunggunginya. Aku menggigit ibu jariku untuk menghalau perasaanku yang tak menentu, rasanya aku ingin bertanya langsung padanya, namun aku takut jika Ia semakin menghindariku.

Oppa,” Ucapku pelan, entah Ia dapat mendengarnya atau tidak.

“Hem…”

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Ucapku sambil memalingkan tubuhku menghadapnya.

Ne,” Ucapnya singkat tanpa melihat kearahku.

“Apa Oppa marah padaku?”

Aniyo, sudahlah jangan bertanya yang aneh-aneh. Sudah larut, tidurlah!”

Aku langsung memalingkan tubuhku kembali, hatiku terasa sakit dengan mendengar ucapan Siwon Oppa. Ia bahkan sudah tidak berkata lembut lagi padaku, aku merindukan Siwon Oppa yang dulu. Aku merindukan kecupan singkatnya pada dahiku sebagai ucapan selamat tidur, bukan kata-kata dingin seperti tadi. Butiran kristal bening dari kedua sudut mataku menghantarkanku ke alam bawah sadarku.

End Raena Pov

oOo

Siwon Pov

Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa ruangan kerjaku. Aku tidak dapat berkonsentrasi lagi, kepalaku terus dipenuhi dengan ucapan Min Ho waktu itu. Seharusnya aku tidak boleh memikirkannya karena aku memang sudah tidak ada hubungan lagi dengan Jiri, tetapi aku tidak dapat membohongi perasaanku yang selalu bergemuruh setiap memikirkan Jiri bersama namja lain, terutama dengan Min Ho.

Aku mengambil ponsel dari saku celanaku, menghubungi nomor yang selama akhir-akhir ini selalu menghantui fikiranku. Aku melepaskan ponsel dari telingaku karena Jiri tidak mengangkat teleponku. Aku melihat layar ponselku sekilas, lalu kembali menghubunginya.

Yoboseo.”

Yoboseo, kenapa suaramu seperti itu, Jiri-ya? Apa kau sedang sakit?” Tanyaku panik mendengar suara seraknya di telingaku.

“Hahaha… apa pedulimu Siwon-ssi? Aku mati pun kau tidak akan peduli lagi padaku kan?” Ucapnya sinis.

“Apa kau dirumah?” Tanyaku mengabaikan kata-kata sinisnya.

“Untuk apa kau menanyakannya Siwon-ssi? Apa kau akan kerumahku jika aku berkata iya, tidak kan?” Ucapnya dengan nada semakin sinis.

“Tunggulah, aku akan kesana dan jangan berbuat yang macam-macam!” Ucapku tegas sebelum memutus sambungan telepon.

Aku menghambur mengambil jazz yang tersampir di kursi kerjaku serta kunci mobil yang tergeletak di atas meja, lalu aku berlari keluar dari ruanganku. Aku mengabaikan panggilan Tiffany, lalu masuk ke dalam lift dan melesat menuju parkiran mobil.

Nafasku tersengal dan dadaku naik turun ketika aku telah sampai di depan kamar Jiri. Pelayannya masih mengenaliku sehingga langsung memperbolehkanku masuk kesini, aku mengatur napasku sejenak lalu mengetuk pintu kamarnya. Tak ada sahutan sehingga kuputuskan untuk memutar kenop pintunya.

Cklek

Aku melangkahkan kakiku masuk secara perlahan, mataku langsung membelalak melihat kondisi kamar Jiri yang sangat berantakan. Buku-buku serta beberapa barang lainnya berserakan di atas lantai serta bau alkohol tercium dengan kuat di hidungku.

Aku mengedarkan pandanganku dan menemukan tubuhnya yang duduk dengan memeluk kedua lututnya. Botol minuman berserakan di samping tubuh mungilnya, aku perlahan mendekatinya dan berjongkok di depan tubuhnya. Wajahnya mendongak saat tanganku menyentuh pundaknya. Ia menatapku dengan kilatan amarah.

“Kenapa Oppa kesini? Aku membenci Oppa, aku sangat membenci Oppa,” Ucapnya dengan menatap mataku lekat.

Mianhae,” Ucapku lirih.

Ia bangkit dari duduknya, menyambar minuman yang ada disampingnya lalu meminumnya dengan sekali tegakan. Ia membuang botol minuman itu di atas kasurnya, lalu mengambil botol minuman lain yang ada di nakas tempat tidurnya. Aku bangkit dari dudukku, lalu merebut botol minuman itu dengan kasar.

“Kembalikan!” Teriaknya kencang, tapi aku mengabaikannya. Ia mengambil botol minuman yang lain, membuka tutupnya dengan cepat, lalu berusaha menegaknya. Aku kembali merebut botol minuman itu, kemudian menegaknya sampai habis.

Seketika kepalaku berdenyut dan terasa sangat menyakitkan. Aku memang tidak terlalu hebat dalam minum dan menegak sebotol alkhol cukup membuat tubuhku sempoyongan. Jiri menatapku dengan mata yang menyipit, “Waeyo, kenapa Oppa bertingkah seolah masih peduli padaku? Aku tidak butuh sikap Oppa seperti ini jika akhirnya Oppa masih kembali pada yeoja itu,” Ucapnya histeris.

Aku menariknya ke dalam pelukanku dengan kepala yang terus berdenyut, menenggelamkannya pada dada bidangku, menghiraukan setiap rontaannya. Aku mengendurkan pelukanku setelah rontaannya mereda, Ia menarik tubuhnya menjauh, lalu menatap mataku lekat. Wajahnya perlahan mendekat pada wajahku hingga dapat kurasakan hembusan napasnya yang berbau minuman keras, sama sepertiku. Semakin lama semakin tak ada jarak diantara kami berdua, namun aku hanya terdiam seakan terbius oleh tatapannya sampai dapat kurasakan bibir tipisnya menyapu bibirku dengan kasar. Aku tidak menolak atau pun membalas ciumannya sehingga menyebabkan Jiri semakin brutal, tangannya menekan kepalaku dan ciumannya telah beralih dari bibir ke leherku. Aku memejamkan mataku dan wajah Raena seketika memenuhi kepalaku.

End Siwon Pov

TBC…

Eh..

Aigo, Kenapa ceritanya semakin gaje *hentukin kepala ke tembok*

Btw, part ini cukup panjang kan chingu? Semoga chingudeul suka #amin xD

Gomawo udah baca dan kalau berkenan, leave your words ya chingu, like juga boleh *puppy eyes*

Advertisements

About choireri

I'm not a writter, but I LIKE writing. Siwon is my priority bias and I like YoonWon + SeoKyu too ^^ author at CRFF

Posted on September 5, 2012, in Chapter, Fan Fiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 37 Comments.

  1. Mwoya !!!! #salah ya nulis mwoyanya ?? *eh..abaikan..
    Wah kok Wonppa jadi begini.. Gimana nasib Rae Kyo *eh maksudnYa Raena *ditimpukin …
    Hehehe…
    Kyo tunggu kelanjutannya Reri eon… Fighting Reri eon dan Daebak 😀 .

  2. loch kok wonpa jd kya gtu…
    Bgaimna nasib raena!??
    Jngan sampai wonpa melakukan’y dg jiri… Sungguh aku tak iklas…. Heeehh
    Tp keren author….
    Aku tunggu klanjutan’y…
    Jngan lma2 y….
    Faithing…^v^

  3. oh nooooo..!!!
    wonppa mulai brpaling..
    wah bahaya nih,,pngaruh alkohol bisa2 trjadi hal2 yg gk d inginkn..
    *mkirnyakejauhan
    mga oppa gk trgoda ma jiri..gmna nasibnya raena ntr,,kan kasian..

    Mksh eon dh update..
    Lnjutanny jgn lama2 y..

  4. Lama juga ya baru dipublish… Kasihan Raena, dy dh belajar mencintai siwon ternyata malah dikhianati. Harus gantiian nieh, Siwon hrs ngerasain n ngelamin spt raena… Mantannya raena hrs dimunculin lg. hayoo lanjut ya, penasaran nieh

  5. Noooooooo!!! Siwon na Jahaaaaattt!!!
    Gag ksihan ama Reana….Huwaaahhh!! “*lempar Siwon pke cinta. *Loh
    hhuhuhuu…Poor Raena. Uda susah pyah dia buat nerima Siwon dan mencintai na..
    eih…mlah maen di blakang Raena.
    Wish it’s not sad story 😦

    • Aigoooo
      Siwonn oppa jgn gitu ya sama Raena
      Kasian kan eonnienya
      Chingudeul jg pada gk suka tuh klu oppa gitu
      (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)

      Semoga bukan sad ending ya
      (ˇʃƪˇ)

  6. Aigoo, penasaran sama next chapnya. Pegimana tuh bang siwon ama jiri eonni bakal bersatu lagi kh? Trus gmana nasib reina eonni? Reri eonni part selanjutnya cepet di publish yah yah.. #cipok eonni#

  7. Mwo?? Oppaaaaa mwoha neunggoya???
    Kesian istri.a wonppa..kenapa sih oppa harus datang ke jiri lagi..
    Apasiihh komen ku + gaje aj..wkakak..
    Aq ga dpet feel.a di part ini author..mian hehe
    next part ku tunggu..:)

  8. next part please…!!!
    Update soon y eonnie..

  9. update soon dong eon.. penasaran nih..
    Pleaaaase

  10. YA! YA! YA! CHOI SIWON-SSI! *dateng-dateng rusuh*
    Itu apa-apaan Siwon sama Jiri pake cium-cium segala. Pikirkan nasib Raena, Won.

    Unni ini ceritanya apa-apaan yaampun~ kenapa jadi gini. halah halah bumi gonjang ganjing langit runtuh dunia terbalik hyukjae menikahi saya *abaikan*

    ayo ayo ayo next partnya cepet update, unn. semoga ga sad ending ini. kalo sampe Siwon sama Raena pisah, saya pecat Siwon dari daftar orang kaya *halah*

    • Aigooo
      Wonppa kena marah Je
      Ayo Je marahin terus wonppanya biar sadar
      >.<

      Hah?
      Dipecat dr daftar org kaya?
      Oooo tidak bisaa
      Klu dipecat
      Mau makan apa Reri eonnie sama anak2nya eonnie nanti
      *loh?

      sabarr ya saeng
      *hug*

  11. Yak!! Siwon-ssi, ige mwoya??
    Aissshhh… Jd sebel sama oppa sendiri. >,,<
    Next partnya ditunggu thor..
    Nyesek banget part yg ini… T.T

  12. Omo wonpa knpa jadi begitu kucian raena jangan hianatin dia

  13. Eonni,mian baru sempet mampir lagi ke wp.a reri eonni n baca ff ini(pdahal dulu aku ngebet bgt ya mnta d lanjutin) :D,
    eon,itu ngapa jadi begini? Klo wonppa bgtu kan kesian raena.a,
    ini bukan sad ending kan eon,bukan ya,bukan dong..*maksa*
    next chapter ak tunggu ya eon 😀

    • gpp kok saeng
      pasti lagi sibuk
      eonnie ngerti kok
      🙂

      tenang aja
      eonnie jamin gak sad ending kok
      *yah ketahuan deh*
      xD

      sabar ya, eonnie belum bisa buat lanjutannya
      T_T

  14. omo…ceritanya makin seru aja!! 🙂 d tunggu part 10nya.. 😉 jgn lama2 ya,eonn..! 😉

  15. Kelanjutan part 10 mana ya ceritanya keren abis

  16. yaaakkkk knpa oppa jdi ababil gitu..

  17. ayu dian pratiwi

    Annyeong chingu aku new reader di ff mu . Hehe aku baru ketemu sama blog ini . Mian par 1-8 nya blm baca ne . .

Leave Your Words, Chingudeul ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: